TEKNIK MENULIS BUKU BEST SELLER
Resume
Ke- 20
Gelombang:
33
Tanggal:
Jum’at, 19 September 2025
Tema:
Teknik Menulis Buku Best Seller
Narasumber:
Akbar Zainuddin, M.M., MNE.
Moderator:
Edmu Yulfizar Abdan Syakura, Gr., M.Pd.
Pertemuan
ke 20 merupakan pertemuan terakhir KBMNI gelombang 33, malam ini mengambil
materi Teknik Menulis Buku Best Seller dengan Narasumber penulis hebat Bapak
Akbar Zainuddin, M.M., MNE. Dan moderator Edmu Yulfizar Abdan Syakura, Gr.,
M.Pd.
Mengenal
sosok Bapak Akbar Zainuddin, M.M., MNE. Beliau penulis buku Man Jadda Wajada
terbit tahun 2019. Dalam perjalanannya, buku ini dicetak 13 kali dan beredar
55.000 eksemplar. Buku ini diterbitkan
oleh penerbit terbesar di Indonesia, PT Gramedia Pustaka Utama, sekarang
disebut Gramedia saja.
Menulis
buku best seller bukanlah mimpi kosong. Setiap orang bisa melakukannya asalkan
punya tekad, kesungguhan, dan langkah yang jelas. Saya percaya betul pada satu
kalimat sederhana: “Man Jadda Wajada” — siapa yang bersungguh-sungguh, pasti
berhasil.
8
Langkah Menulis Buku Best Seller dengan prinsip MAN JADDA
1. 1. M — Mulai dari Sekarang
Banyak orang ingin menulis buku, tapi selalu menunda. Mereka berkata, “Nanti kalau ada waktu luang, saya akan menulis.” Sayangnya, waktu luang itu jarang datang. Kesibukan selalu ada, dan kalau kita menunggu momen sempurna, maka tulisan itu tidak akan pernah lahir. Kunci utamanya sederhana: jangan tunggu waktu, tapi ciptakan waktu.
Kunci utama dari buku yang potensial terjual bagus adalah karena tulisan kita bagus. Dan tulisan bagus tidak terlahir begitu saja, tetapi hasil dari latihan yang panjang. Belum terlambat asal dimulai dari sekarang. Disiplin menulis setiap hari. Kapan saja.
Mulai dengan 10 sampai 15 menit tidak apa-apa. Yang penting konsisten setiap hari.
2.
2. A — Atur Ide dan Outline
Menulis tanpa arah itu seperti
berkendara tanpa peta. Kita bisa berputar-putar, kehilangan tenaga, dan tidak
sampai tujuan. Karena itu, penting sekali membuat outline sebelum mulai
menulis. Outline adalah kerangka besar yang memandu kita dari awal hingga
akhir.
Misalnya, kamu ingin menulis buku
motivasi tentang manajemen waktu. Buatlah bab-bab seperti: (1) Mengapa waktu
berharga, (2) Kesalahan umum dalam mengatur waktu, (3) Teknik sederhana manajemen waktu, dan (4) Inspirasi tokoh sukses. Dengan begitu, setiap kali
duduk menulis, kamu tidak bingung harus mulai dari mana.
Ada dua mazhab dalam menulis. Yang
pertama adalah dengan outline dan yang kedua adalah tanpa outline.
Saran saya, silakan Bapak Ibu
membiasakan untuk membuat outline terlebih dahulu. Nanti kalau sudah mahir
outline-nya boleh hanya ada di pikiran saja tanpa harus dituliskan.
3. 3. N
— Nikmati Proses Menulis
Menulis sering dianggap beban.
Padahal, jika kita menikmatinya, menulis bisa menjadi aktivitas menyenangkan.
Jangan selalu berpikir tentang target halaman atau kapan bukumu selesai.
Fokuslah menikmati setiap kalimat yang keluar dari pikiranmu.
Menulis akan menjadi kegiatan yang
menyenangkan kalau kita bisa menikmatinya.
4. 4. J
— Jaga Konsistensi
Kebanyakan penulis berhenti di
tengah jalan karena kehilangan konsistensi. Semangat besar di awal sering
hilang saat menemui kebosanan. Padahal, keberhasilan menulis buku bukan
ditentukan oleh ledakan semangat sesaat, tapi oleh disiplin kecil yang berulang.
Tips praktis: tentukan target
sederhana, misalnya 500 kata sehari. Jika dilakukan konsisten, dalam 4 bulan
kamu sudah punya naskah setebal 60.000 kata, setara sebuah buku penuh.
Konsistensi kecil bisa menghasilkan karya besar.
5. 5. A
— Ambil Inspirasi dari Sekitar
Inspirasi menulis tidak selalu
datang dari hal-hal besar. Justru seringkali lahir dari pengalaman sehari- hari
yang sederhana. Pengalaman pribadi, kisah orang lain, atau peristiwa di sekitar
bisa menjadi bahan tulisan yang menyentuh.
Cobalah mulai memperhatikan
sekitar: obrolan di warung kopi, perjuangan tetangga, atau pengalaman pribadi
saat jatuh bangun. Dari situ, kamu bisa menemukan cerita yang autentik dan
dekat dengan pembaca.
Kita menulis itu bukan
mengawang-awang. Jauh lebih baik kalau kita menulis itu terinspirasi dari kejadian atau kehidupan nyata sekitar kita.
6. 6. D
— Dengarkan Kebutuhan Pembaca
Buku best seller lahir bukan hanya
dari keinginan penulis, tapi dari kebutuhan pembaca. Penulis yang bijak tahu
bahwa menulis itu bukan sekadar memuaskan dirinya, tapi juga memberi solusi dan
manfaat bagi orang lain.
Sebelum menulis, tanyakan: “Masalah
apa yang sedang dialami masyarakat? Apa solusi yang bisa saya tawarkan?” Jika
bukumu menjawab kebutuhan pembaca, mereka akan mencarinya, membacanya, dan merekomendasikannya ke orang lain.
Kalau buku fiksi, sebaiknya
dirancang sesuai dengan kebutuhan pembaca. Sehingga buku kita akan menjawab apa
kebutuhan pembaca.
7. 7. D
— Disiplin Revisi
Naskah pertama adalah bahan mentah.
Buku yang baik lahir dari revisi yang telaten. Revisi bukan berarti tulisanmu
jelek, tapi justru tanda keseriusanmu untuk memberikan yang terbaik bagi
pembaca.
Jangan malas untuk membaca ulang,
memperbaiki kalimat, menghapus yang tidak perlu, atau menambahkan yang penting.
Ingat, kualitas buku terletak pada revisinya, bukan hanya pada ide awalnya.
Apa yang direvisi dari tulisan
kita?
1. Informasi tanggal, tahun,
peristiwa.
2. Ejaan dan kaidah.
3. Istilah bahasa asing.
4. Penyelarasan gaya tulisan
keseluruhan, mesti sama dari awal sampai akhir.
8. 8. A
— Aktif Promosi
Buku best seller tidak hanya
ditulis, tapi juga diperkenalkan. Jangan malu atau merasa sungkan untuk mempromosikan karya sendiri. Ingat, jika kamu tidak memperkenalkan bukumu,
siapa lagi?
Gunakan semua saluran: media
sosial, komunitas, seminar, bahkan percakapan sehari-hari. Promosi bukan
sekadar menjual, tapi berbagi manfaat dari bukumu. Semakin banyak orang tahu,
semakin besar peluang bukumu menjadi best seller.
Jangan malu dan takut untuk jualan
buku kita. Di manapun kesempatan itu ada, manfaatkan untuk jualan.
Kesimpulan
8
Langkah Menulis Buku Best Seller dengan prinsip MAN JADDA
- - Mulai
dari sekarang
-
- Atur ide dan outline
- - Nikmati proses menulis
- - Jaga konsistensi
- - Ambil inspirasi dari sekitar
- - Dengarkan
kebutuhan pembaca
- - Disiplin
revisi
- - Aktif
promosi
Dari delapan langkah tadi, kita
belajar bahwa menulis buku best seller bukanlah mimpi kosong, tapi buah dari
kesungguhan, konsistensi, dan keberanian untuk terus berproses.
Penutup
Man Jadda Wajada bukan sekadar
semboyan, tapi sebuah langkah menuju lahirnya karya besar. “Siapa yang
bersungguh-sungguh, ia pasti akan berhasil.”
Komentar
Posting Komentar