MENULIS sebagai PASSION
Resume
Ke-2
Gelombang:33
Tanggal:
Jum’at, 8 Agustus 2025
Tema:
Menjadikan Menulis sebagai Passion
Narasumber:
Dra. Sri Sugiastutu, M.Pd.
Moderator:
Lely Suryani, S.Pd.SD.
Pertemuan
kedua Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) pada Jum’at, 8 Agustus 2025 materi
yang disampaikan tentang Menjadikan Menulis sebagai Passion dengan
narasumber Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd dan moderator Lely Suryani, S.Pd.SD.
Acara
diawali perkenalan narasumber, karena ada pepatah tak kenal maka tak sayang.
Berikut sosok Bunda Kanjeng yang memiliki nama lengkap Sri Sugiastuti, lahir di
Semarang, 8 April 1961. Ia lulus SMA tahun 1980. Kuliah di UNS, lanjut S-2 di
UMS dan lulus tahun 2010. Ia sempat mengajar di Jakarta hingga 1990. Namun,
cinta dan tanggung jawabnya terhadap keluarga membawanya hijrah ke Solo.
Sejak
2 Juli 2018, beliau mendapat amanah sebagai Kepala SMK Tunas Pembangunan 2
Surakarta. Beliau aktif di berbagai komunitas literasi, telah menghasilkan 51
karya buku Solo dan seratus lebih buku Antologi. Ia sering diminta untuk
menjadi juri dalam lomba pembacaan puisi, pantun, cerita rakyat, ataupun esai
yang digelar Perpusda Sragen, Sukoharjo, dan Solo. Selain itu, beliau juga
aktif dalam organisasi PGRI.
Ia
ada di berbagai komunitas Menulis bergengsi yang ada di Indonesia. IIDN, SPK,
RVL, YPTD, dan KBMN dan masih banyak lagi. Ia sangat bersemangat membangun
dunia literasi para guru di Nusantara.
Demikian
perkenalan singkat dari narasumber, selanjutnya penyampaian materi oleh
narasumber.
Mengapa
kita harus menulis?
Jawabannya
pasti banyak sekali dan bervariasi tergantung tujuan dan visi misi
masing-masing pribadi . Bisa karena menulis sebagai alat ekspresi, komunikasi,
dan pengembangan diri.
Yang
jelas menulis adalah satu keterampilan yang perlu diasah untuk mengembangkan
diri dan bagian dari alat komunikasi menyampaikan apa yang kita sukai dan kuasai.
Apa
yang dimaksud passion dalam menulis?
Passion
bukan sekedar hobi, tapi dorongan kuat yang datang dari dalam. Passion adalah
motivasi utama yang membuat kita terus menulis, bahkan saat tantangan datang.
Bagi
saya passion menulis merupakan satu kebutuhan yang harus saya tunaikan.
Layaknya seseorang yang kebelet pipis harus ditunaikan karena bila ditunda
bahaya bisa ngompol.
Beberapa
poin penting dalam menulis:
-
Dorongan
batin yang kuat.
-
Kegembiraan
dalam prosesnya.
-
Tidak
mudah menyerah.
Menemukan
“Mengapa” Anda
Dengan
satu formula WHY bisa kita buat satu tulisan kreatif yang menyenangkan atau
sebaliknya. Tergantung penulisnya. Menemukan alasan atau tujuan yang kuat (the
WHY) adalah fondasi passion. Ada beberapa pertanyaan yang dapat Anda gunakan
memudahkan menemukan alasan menulis, antara lain:
1. Apa yang ingin Anda sampaikan?
2. Masalah apa yang ingin Anda
pecahkan?
3. Siapa yang ingin Anda bantu?
Selain
dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, passion dapat ditemukan dengan menjajal
melalui eksplorasi jenis genre tulisan seperti fiksi, nonfiksi, puisi, blog,
jurnal, dan sebagainya. Tulis hal-hal yang Anda sukai dan kuasai, jangan takut
bereksperimen.
Setiap manusia lahir sudah
ditakdirkan sebagai pemenang saat dia masih berwujud sperma yang mengetuk pintu
rahim. Jadi mari kita gali potensi itu!
Potensi
untuk bisa belajar dengan ikhtiar dan berdoa semoga dimudahkan dan dimampukan
oleh Allah SWT.
Silakan
pilih sesuai selera masing-masing dari mulai genre lalu bangun diri dengan
memberi afirmasi bahwa kita bisa melakukan yang terbaik dan jangan merasa
khawatir. Buat semuanya menjadi sederhana
dan nikmati prosesnya.
Langkah
Pertama: Menulis Tanpa Beban
Mulailah
menulis dari hal kecil dan sederhana, seperti menulis jurnal harian atau cerita
pendek. Jangan langsung memikirkan proyek besar. Karena menulis itu berproses,
dari mengatur target kecil dan realisitis. Misal mengamati dan mencermati satu
peristiwa yang menimpa orang lain membuat kita jadi peka. Kemudian nikmati
prosesnya, bukan hanya hasilnya. Dari hasil mengamati dan menjadi pendengar
yang baik saya menerbitkan buku The stories of wonder women yang telah dicetak
lebih dari 1000eks secara bertahap. Buku motivasi yang berkisah tentang
perempuan tangguh yang berusaha menggapai ridha Allah S.W.T. Berikutnya tulis
untuk diri sendiri dahulu.
Komitmen
adalah Kunci
Tanpa
komitmen tulisan atau calon buku kita mangkrak
Dalam
berkomitmen apa yang harus kita lakukan?
“Mengatur
waktu dan menciptakan kebiasaan itu jadi
kunci utama. Buang berbagai alasan, Anu dan tapi tapi yang menjadi kendala
menulis” kata Bunda Kanjeng.
Ruang atau
tempat menulis juga mempengaruhi dalam menulis, sebetulnya ruang atau tempat
fleksible saja. Tetapi tempat yang cozy, suasana hati yang gembira juga ikut
memperlancar ide dan pesan yang mau ditulis mengalir deras.
Tips dari Bunda
kanjeng, bila ingin tulisannya segera publish, bila ingin bukunya segera salam
pelukan dan dinikmati banyak orang, maka penulis harus punya target punya
menejemen waktu yang oke.
Closing
Statement malam ini dari Bunda....
Dan
sekaligus bonus penguatan untuk bapak ibu yang hadir malam ini. Silakan
diwujudkan dan ikuti rambu- rambu berikut
Saat
kita berkomitmen dan menulis dijadikan passion
1.
Tentukan Gagasan Utama
Tulisan yang bagus selalu punya
satu gagasan pokok yang jadi benang merah tulisan. Fokus pada satu topik, lalu
kembangkan.
2.
Buat Kerangka (Outline)
Susun ide-ide dalam bentuk poin.
Umumnya struktur Tulisan
Pendahuluan : pengantar topik dan pernyataan
Isi
(2–3paragraf) : argumen, data, atau
contoh pendukung
Penutup : simpulan dan penegasan
kembali gagasan utama
3.
Mulai dengan Kalimat Pembuka yang Kuat
Awali esai dengan kutipan,
pertanyaan, fakta menarik, atau pernyataan provokatif. Tujuannya menarik
perhatian pembaca.
4.
Gunakan Data dan Contoh
Untuk
memperkuat argumen, sertakan:
✓Data
statistik
✓Kutipan
ahli
✓Studi
kasus
✓Pengalaman
pribadi (Jika sesuai konteks).Khususnya untuk non fiksi
5.
Tulis dengan Gaya yang Jelas dan Mengalir
Hindari kalimat terlalu panjang dan
bertele-tele.
Gunakan kata transisi
antarparagraf: selain itu, meskipun demikian, di sisi lain
Perhatikan ejaan dan tanda baca
Mengapa
Menulis Penting di Era Digital
“Menulis
adalah bekerja untuk keabadian.” — Pramoedya Ananta Toer.
Di
tengah derasnya arus informasi saat ini, banyak orang sibuk membagikan konten,
tetapi sedikit yang benar-benar menulis dengan tujuan dan makna.
Padahal,
kemampuan menulis bukan hanya soal menuangkan kata, tapi juga cara berpikir,
menyusun argumen, dan menyampaikan pesan secara jelas. Di era digital, menulis
bukan lagi keterampilan sampingan, melainkan keterampilan utama.
Pertama,
menulis membantu kita berpikir jernih. Saat kita menulis, kita dipaksa memilah
ide mana yang penting, mana yang perlu dikeluarkan.
Proses
ini melatih ketajaman berpikir. Misalnya, ketika seseorang ingin membagikan
opininya di media sosial, menulis dengan runtut dan jelas akan membuat pesannya
lebih mudah dipahami dibanding sekadar menumpahkan emosi.
Kedua,
menulis memperkuat personal branding. Di dunia digital, siapa pun bisa menjadi
“seseorang” lewat tulisannya. Seorang freelancer, misalnya, bisa membagikan
pengalaman kerja atau tips di LinkedIn.
Seiring
waktu, tulisan-tulisan ini membentuk persepsi publik terhadap dirinya. Banyak
profesional yang dikenal bukan hanya karena keahliannya, tapi karena
kemampuannya menyampaikan gagasan lewat tulisan.
Ketiga,
menulis adalah aset jangka panjang. Konten yang ditulis hari ini bisa dibaca
dan berdampak bertahun-tahun ke depan.
Berbeda
dengan video atau konten visual yang cepat tenggelam di algoritma, tulisan yang
kuat bisa terus ditemukan lewat pencarian. Blog, artikel, atau bahkan utas
Twitter bisa menjadi warisan digital yang bernilai.
Tentu,
menulis di era digital punya tantangannya sendiri. Persaingan ketat, perhatian
pembaca yang pendek, dan banjirnya informasi membuat kita harus lebih jeli
dalam menyusun kata. Namun justru karena itulah, kemampuan menulis menjadi
pembeda yang sangat kuat.
Kesimpulannya,
menulis bukan hanya penting—ia krusial. Di dunia yang makin digital,
orang-orang yang bisa menulis dengan baik akan lebih mudah memengaruhi,
membangun kredibilitas, dan meninggalkan jejak. Jadi, jika kamu ingin bertahan
dan bersinar di era informasi ini, mulailah dari satu hal sederhana: menulis.
Akhir
kata tak ada gading yang tak retak semua yang baik datangnya dari Allah
Mohon
maaf bila ada salah dan khilaf dalam kegiatan sharing malam ini.
Wassalam
menulis di era digital punya tantangannya sendiri. Persaingan ketat, perhatian pembaca yang pendek, dan banjirnya informasi membuat kita harus lebih jeli dalam menyusun kata. Namun justru karena itulah, kemampuan menulis menjadi pembeda yang sangat kuat. SEPAKAT
BalasHapusSepakat, semoga saya bisa seperti Omjay dan pakar-pakar yang ada di tim solid Omjay
Hapus