MENGATASI WRITER'S BLOCK
Resume
Ke- 7
Gelombang:33
Tanggal:
Rabu, 20 Agustus 2025
Tema:
Mengatasi Writer's Block
Narasumber:
Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr.
Moderator:
Gita Dwi Septiani, S.Pd., M.Pd.
Saat
kita seolah kehabisan ide, mentok, nggak tau harus nulis apa, jangan khawatir
Ibu Bapak, itu bukan kutukan, namun bisa jadi pertanda bahwa kita sedang
mengalami yang namanya writer’s block (WB).
Malam
ini, kita akan belajar bersama cara menaklukan Writer's Block. Dengan
nara Sumber Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr. dan moderator Gita Dwi Septiani,
S.Pd., M.Pd.
Apa
Itu writer’s block?
Wikipedia
mengartikan writer's block sebagai sebuah kondisi dimana seorang penulis
tidak mampu menghasilkan karya baru atau mengalami kemunduran dalam hal
kreativitas.
Istilah
ini dicetuskan pertama kali pada tahun 1947 oleh psikiater Austria, Edmund
Bergler.
WB
(writer's block) bisa dialami oleh siapa pun. Penulis profesional maupun
pemula. Yang sudah sangat sering menulis ataupun masih jarang. Penulis cerpen,
puisi, novel, berita, script, dll. Tak pandang bulu.
Tantangan
menulis yang dialami saat terkena WB juga bisa bervariasi. Mulai dari kesulitan
menghasilkan ide orisinal hingga ketidakmampuan menghasilkan karya selama
bertahun-tahun.
Faktor
penyebab WB
1. Aspek Kognitif (perfeksionis,
bingung fokus tulisan harus seperti apa, dsb),
2. Faktor Emosi (takut dinilai, takut
dikritik, dsb),
3. Aspek Konteks (sulit menulis karena
banyak gangguan, merasa tidak cukup waktu, dsb)
AI juga bisa menjadi salah satu
"alat bantu" ketika kita sedang buntu (menulis).
Teknik
agar segera terlepas dari WB:
*Pertama
bisa gunakan 5W1H.
Saat buntu, otak biasanya bingung
mau mulai dari mana. 5W1H ( what, who, when, where, why, how ) memberi kita
enam pintu masuk: kita tinggal pilih pintu mana yang paling mudah dijawab dan
langsung deh jadi bahan tulisan.
Misal coba tanyakan "Apa yang
sedang terjadi saat ini?"
Dan ayo jawab minimal dg 1 kalimat.
*Kedua, kita bisa gunakan teknik
pomodoro Mini 10×2 – 10 menit nulis, 2 menit jeda.
Pomodoro sebetulnya merupakan
teknik manajemen waktu yang dikembangkan oleh Francesco Cirillo pada akhir
1980-an. Intinya, teknik ini membagi waktu kerja menjadi interval fokus 25
menit yang disebut "pomodoro", diikuti dengan istirahat singkat.
Setelah empat "pomodoro", istirahat yang lebih panjang dilakukan.
*Ketiga,
gunakan kerangka 3P (Peristiwa–Perasaan–Pelajaran)
Tulis 3 hal berikut:
Peristiwanya apa?
Kita merasakan apa?
Pelajaran apa yang kita dapat?
Kita
juga boleh menggunakan model menulis 3 paragraf : pembuka, isi, penutup.
*Keempat,
kita bisa coba dengan teknik The Ugly First Draft (Paragraf jelek pertama)
Banyak orang berhenti menulis
karena ingin paragraf pertama langsung bagus.
Padahal ... standar tinggi di awal
justru bisa bikin macet. Ini juga akhirnya bisa menyebabkan WB.
Maka solusinya adalah tulis
paragraf pertama dengan sengaja jelek, berantakan, penuh typo atau kalimat yang
sangat sangat sederhana sekali.
Langkah Praktis melakukan Teknik
Paragraf Jelek Pertama
1. Buka halaman kosong 🗒️ – jangan biarkan kosong terlalu
lama. Cuus langsung ketik.
2. Set timer 3–5 menit ⏱️ – cukup singkat saja biar tidak
tertekan.
3. Tulis apa adanya – boleh curhat,
marah, ngawur, bahkan tulis “aku bingung nulis apa”.
4. Dilarang menghapus ⛔ – ketik terus meskipun salah.
5. Stop setelah timer – baru baca
ulang, lalu ambil 1 kalimat yang bisa dipoles jadi pembuka.
Mohon diingat ya, teknik keempat
ini tujuannya menghasilkan satu paragraf utuh pertama.
*Kelima, kita bisa coba free
writing.
Sekilas free writing mirip dengan
The ugly first draft. Namun jika TUFD biasanya dilakukan secara singkat (2-3
menit), maka free writing dilakukan dalam durasi lebih lama (5-10 menit).
Saat melakukan free writing, kita
harus terus menulis tanpa berhenti, apa pun yang muncul di kepala yang
bertujuan mengalirkan isi pikiran, mengeluarkan ide liar tanpa sensor, tanpa
edit, tanpa hapus hapus
Hasilnya dari free writing bisa
berupa daftar, curhat acak, kalimat putus-putus, bahkan tidak nyambung.
Kesimpulan:
Setiap
penulis pasti pernah mengalami writer’s block, baik pemula maupun profesional.
Namun, seberapa besar upaya kita untuk segera lepas dari Writer’s block untuk
menghasilkan karya tulis.
Penutup
Jangan
berhenti menulis walau mengalami writer’s block.
Komentar
Posting Komentar